Showing posts with label Kisah. Show all posts
Showing posts with label Kisah. Show all posts

Monday, July 30, 2012

^^

Bismillahirrahmaanirrahiim...

I'm Ok
I really am now
Just need sometime
to figure things out



Not telling lie
I'll be honest with you
Still we don't know what's yet to come




»»  READMORE...

Friday, June 22, 2012

Puisi Cinta dari Adinda Matlab…

Puisi Cinta dari Adinda Matlab…

Assalamu’alaikum warahmatullah..

Apa yang terlintas di fikiran Anda ketika mendengar sajak cinta dari seseorang?
Senang-kah?
Malu-kah?
Atau dasar tukang gombal (Hhuuh)..

 

Tenang, tenang, kali ini kita akan sedikit bersinggungan dengan cinta.
Tepatnya cinta kepada sesama manusia, hubungan antara kakak Assisten Laboratorium (selanjutnya disingkat AsLab)  dengan adik assisten tentunya dan pihak terkait lainnya..
Yah, satu tahun belakangan ini yaitu ketika saya semester lima di sebuah perguruan tinggi ternama (baca: UNIMED) saya melamar menjadi assisten praktikum matematika. Syaratnya masih mudah, lulus praktikum matematika I sampai praktikum matematika IV. Mudah kan? Cuma butuh 2 tahun berjenjang kok supaya bisa melamar AsLab..
Lamaran kali itu tidak membutuhkan banyak biaya, Anda hanya perlu menyediakan Foto 3x4 berwarna satu lembar lalu mengisi formulir yang disediakan tanpa membayar apapun (ingat: tanpa biaya apapun).  Dari hati seyakinnya saya akan lulus. Yah, saya memang tidak begitu perlu menggunakan teori peluang atau deret taylor untuk membuktikannya (pletak!) dan Alhamdulillah lulus juga.
Masuk ke pasal orang yang meluluskan saya ini, namanya Herman Marbun (maaf ya bang kalau ada kesalahan nama), biasa dipanggil bang Herman. Awalnya serem banget melihat looking abang ini, wajahnya tidak meyakinkan buat anak kecil tersenyum manis seketika. Itulah hidup, kita tidak boleh melihat seseorang hanya dari tampangnya a.k.a wajahnya. Don’t judge book by its cover. Ternyata si abang baik euy, mungkin butuh waktu lebih lama lagi untuk membuatnya akrab. Nak kenal dekat je supaya si abang bisa dijadikan mad’u (object da’wah).  Yang nantinya akan sering dipinjami LCD oleh kawan-kawan keputrian dan dari pihak tertentu lainnya. Terima kasih ya bang Herman atas perhatian dan pengertiannya..
Semenjak saat itu saya mulai sering mengunjungi bang Herman dikantornya (ups!).  Eh, memang harus la, kan mau mengambil daftar absen adik2 ntu (jangan su-uzhan aj la boy).  Dan pada akhirnya … … …
Semua berjalan dengan baik, saya menjadi populer dikelas adik assisten (ya iyalah, kan dah bisa menggantikan dosen). Semua ilmu dari kakak aslab saya sebelumnya, saya kembalikan ke adik2 assisten sekarang. Tak ada yang ditutupi, tak ada yang disembunyikan bahkan saya dkk menambahi apa yang tidak ada di diktat. Saat semester lima saya mengajar bersama Iwan Prakasa dan Joy Juli Great Simanjuntak (daku yang paling cantik kaan?) dikelas Mat Dik A 2011.  Praktikum Mat I. Asli Menyenangkan..
Lanjut ke semester 6, saya, bang Iwan kochu (panggilan spesialku padanya) dan bang Joy (secara Joy lebih tua dari saya) berpisah. Cari kawan yang sama jam kosongnya. Semuanya classmate tapi untuk cari waktu kosong beda-beda dunk. Akhirnya terbentuklah tim bersama Nurhabibah Nasution, Retni Triandini dan Widya shopa. Kali ini mungkin saya juga yang paling cantik dan paling muda, persis saat bersama kochu dan bang Joy. Gedhubrak!! (maaf, kalau ada yang narsis :)) di kelas Mat Dik C 2011. Praktikum Matlab.



Awalnya sedikit kesulitan mengikutinya karena pada masa 2009 belum ada praktikum Matlab.  Tapi sebagai assisten yang professional (subhanallah) kita harus belajar otodidak supaya bisa mengajari adik2 ntu. Bela-belain pinjam diktat adik kelas dan eng ing eng diktat Rikky Ardiansyah Lubis (Ketum Ummat 2012-2013) yang terpilih untuk dipinjam.   Alhamdulillah, materinya bisa diikuti walaupun tidak sangat mahir.
Nah, dikelas terakhir inilah yang ada puisi cinta nya.. (he)..
Maklum permintaan orang dapur (whattzz??) maksudnya permintaan kakak assisten nya (saya-lah otaknya :) ). Ini berkenaan dengan bagaimana pandangan mereka tentang Praktikum Matlab dan khusus kakak assistennya, saya sendiri. Berikut cuplikan puisi mereka khususnya untuk Qoriyanti..

Selamat menikmati!!

Syah Alam
Karya: Fajar Sukma Harsa
Selalu kupandang tanpa kaku
Selendang laksana mihrabnya suci
Kerudung halus putih bercahaya
Menguntai niat mulus murni
Dia wanita sejati
Detakan jantung
Hembusan nafas
Derapan langkah
Tak pernah lepas dari tasbih
Tak pernah luntur dari ikhlas
Tak pernah jatuh dari salam
Si kerudung, si buah qalbu
Hakikat sang pujangga syah alam
Sayembara tujuh rupa
Melintang ikrar sang benang putih
Bersatu untuk satu tujuan
Gembok suci penutup raga
Dari hitam pekat dunia
Untuk agama murni semata
Tergenggam benang suci dalam satu ikatan
Kerudung putih terlingkar di dada
Wanita . . .
Engkau emas kerudung
Wanita . . .
Engkau penikmat kerudung
Wanita . . .
Engkau buahnya kerudung
Wanita . . .
Engkau madunya kerudung
Wanita . . .
Engkau lah kerudung itu
Sayup-sayup menekan dunia
Bumi indah, langit ku cerah
Ufuk ke ufuk

Comment untuk Fajar : Subhanallah, puisi fajar Te O Pe Be Ge Te deh :)..


Karya: -
Senyuman tulus terukir dari bibirmu
Kesabaran terpancar rona indah pipimu
Tutur lembutmu meyakinkan langkahku
Untuk mencintai medan berat ini bersamamu
                Awal yang berat terlihat mudah
                Karena dorongan semangat darimu
                Kepulan rasa lelah hilang seketika
                Saat kau tepuk bahuku
Semua yang kompleks menjadi sederhana
Semua yang sulit terlampaui
Terjalani secepat kecepatan cahaya
Terlewati penuh makna yang berarti
                Semoga pertemuan sesaat ini
                Menjadi makna yang besar
                Dan memberi arti
                Untuk setiap langkah yang dilalui

Comment untuk Adinda: terima kasih dinda pemalu, namanya sampai tidak dicantumkan. Thank’s to Prof. P. Siagian. Menepuk bahu memang selalu diingat. :)

KAU
Karya: Nisma Ariyati
Kau bagai mawar berduri
Merah merekah
Harum semerbak
Namun kau terlindungi dari duri
Tak ada yang berani memetikmu
                Pesonamu sungguh menawan
                Menaklukkan setiap lebah yang berterbangan
Membuat iri kembang-kembang lain
Tuturmu yang santun
Anggunnya dirimu dibalik hijab yang menjuntai
Dan kecerdasan yang menambah kesempurnaanmu
                Siapa yang tak menginginkanmu
                Wahai kau mawar berduri??

Coment untuk Nisma: Terima kasih atas sanjungannya. Wah, ternyata kakak mawar berduri yaa.. :)

Genggaman Harap
Karya: Putri Readora
Kau, yang disana, yang duduk dengan harap ..
Harap-harap agar kami ini bisa ..
Bisa seperti bintang di angkasa
Dan mutiara di dasar samudera ..
Bagaimana ku berterima kasih tentang itu?
Kala bibir tak bisa berucap ..
Dan raga ini tak bisa mengungkap,
Terimalah sekumpulan kata berirama cinta dari adinda,
Yang akan menemanimu di balik lamunanmu,
Menjadi obat rindumu saat aku tak disisimu ..
Walau ‘kau’ dan ‘aku’ tak terikat apapun ..
Tetaplah ingat aku dalam sujudmu,
Dalam setiap tetes doamu, kakanda ..
Medan, 21 Mei 2012

Comment untuk Putri: Terima kasih ya Putri atas puisinya. Memang puisi adinda sekalian menjadi pengobat rindu ahh.. :)


Kelembutan Hatimu
Karya: Stepany Cristy Tarigan
Kelembutan hati
Yang engkau miliki
Mampu meluruhkan seluruh
Masalah dalam hatiku
                Senyum, suara, tindakan
Yang engkau miliki
                Mengandung arti kelembutan
                Yang mendalam
Kesabaran yang engkau
Tunjukkan mampu menjadi
Penghilang kegundahan hati
                Kelembutan hatimu
                Bak fajar yang menyinari kegelapan

Comment untuk Cristy: Terima kasih ya Cristy, puisinya bagus. Kelembutan hati memang membuahkan hasil.. :)

Matlab
Karya: -
Matlab . . .
Apa itu matlab?
Sejenis makanankah?
Atau suatu nama ilmu baru?
Sungguh istilah yang asing bagiku
                Hari demi hari dilewati
                Bimbingan demi bimbingan dijalani
                Barulah aku memahami apa itu matlab
Sungguh suatu ilmu yang unik
Ilmu yang dapat mencerahkan masa depan
Engkau akan kujadikan sebagai
Tambahan bekal ilmuku
Untuk mamasuki masa depan gemilang

Comment untun Adinda: Terima kasih atas puisinya. Lupa buat namanya nih yaa.  Sekarang dah tidak asing lagi dengan matlab kaan dinda? :)

Terima kasih berujung
Karya: Chrisna T.Y Sinaga
Awalnya aku meniadakanmu
Menganggapmu seperti tiang-tiang
Penyangga peremaian jiwa
Namun kau tak abai
Kau mainkan serunai
Hingga ku tertegun
Dan semua paradigma terputus
Kini kumenanti saat,
Detak langkahmu mendekat
Wangi senyummu merona …
Alunan suaramu , , ..
Namun ku sadar, masa kan berujung
Lembayung senja akan menutup
Penantian tidak akan lagi
Pupus akan berhenti
Semoga juangmu sesukses senyummu
Terima kasih . . .
^_^

Comment untuk Chrisna: Terima kasih ya Crisna. Ternyata senyum kakak wangi yaa. :)

Subhanallah ya, bagus-bagus imajinasinya..
Yuk, mari kita termotivasi menjadi orang yang bermanfaat. Sulit memang, tidak semudah  membalik telapak tangan,  insya Allah, di setiap kesulitan ada kemudahan. Seperti dalam firmanNya:
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (5). Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan (6).” (Q.S. Asy-Syarh: 5-6)
Ya kawan, di setiap kesulitan ada kemudahan. Tetaplah saling menasehati dengan hikmah. Fastabiqul khairat!

Nihayatuzzyn
22 june 2012; 12.19pm
»»  READMORE...

Sunday, June 12, 2011

UKHUWAH

UKHUWAH


Ini adalah sebuah kisah tentang kepemimpinan Ali ibn Abi Thalib dalam Khulafaurrasyidin yang sangat patut kita teladani.

Tidak ada khalifah yang paling mencintai ukhuwwah, ketika orang berusaha menghancurkannya, seperti Ali ibn Abi Thalib. Baru saja dia memegang tampuk pemerintahan, beberapa orang tokoh sahabat melakukan pemberontakan. Dua orang di antara pemimpin Muhajirin meminta izin untuk melakukan umrah. Ternyata mereka kemudian bergabung dengan pasukan pembangkang. Walaupun menurut hukum Islam pembangkang harus diperangi, Ali memilih pendekatan persuasif. Dia mengirim beberapa orang utusan untuk menyadarkan mereka. Beberapa pucuk surat dikirimkan. Namun, seluruh upaya ini gagal. Jumlah pasukan pemberontak semakin membengkak. Mereka bergerak menuju Basra.

Dengan hati yang berat, Ali menghimpun pasukan. Ketika dia sampai di perbatasan Basra, di satu tempat yang bernama Alzawiyah, dia turun dari kuda. Dia melakukan shalat empat rakaat. Usai shalat, dia merebahkan pipinya ke atas tanah dan air matanya mengalir membasahi tanah di bawahnya. Kemudian dia mengangkat tangan dan berdo'a: "Ya Allah, yang memelihara langit dan apa-apa yang dinaunginya, yang memelihara bumi dan apa-apa yang ditumbuhkannya. Wahai Tuhan pemilik 'arasy nan agung. Inilah Basra. Aku mohon kepada-Mu kebaikan kota ini. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya. Ya Allah, masukkanlah aku ke tempat masuk yang baik, karena Engkaulah sebaik-baiknya yang menempatkan orang. Ya Allah, mereka telah membangkang aku, menentang aku dan memutuskan bay'ah-ku. Ya Allah, peliharalah darah kaum Muslim."

Ketika kedua pasukan sudah mendekat, untuk terakhir kalinya Ali mengirim Abdullah ibn Abbas menemui pemimpin pasukan pembangkang, mengajak bersatu kembali dan tidak menumpahkan darah. Ketika usaha ini pun gagal, Ali berbicara di hadapan sahabat-sahabatnya, sambil mengangkat Al-Qur'an di tangan kanannya: "Siapa di antara kalian yang mau membawa mushaf ini ke tengah-tengah musuh. Sampaikanlah pesan perdamaian atas nama Al-Qur'an. Jika tangannya terpotong peganglah Al-Qur'an ini dengan tangan yang lain; jika tangan itu pun terpotong, gigitlah dengan gigi-giginya sampai dia terbunuh."

Seorang pemuda Kufah bangkit menawarkan dirinya. Karena melihat usianya terlalu muda, mula-mula Ali tidak menghiraukannya. Lalu dia menawarkannya kepada sahabat-sahabatnya yang lain. Namun, tak seorang pun menjawab. Akhirnya Ali menyerahkan Al-Qur'an kepada anak muda itu, "Bawalah Al-Qur'an ini ke tengah-tengah mereka. Katakan: Al-Qur'an berada di tengah-tengah kita. Demi Allah, janganlah kalian menumpahkan darah kami dan darah kalian."

Tanpa rasa gentar dan penuh dengan keberanian, pemuda itu berdiri di depan pasukan Aisyah. Dia mengangkat Al-Qur'an dengan kedua tangannya, mengajak mereka untuk memelihara ukhuwwah. Teriakannya tidak didengar. Dia disambut dengan tebasan pedang. Tangan kanannya terputus. Dia mengambil mushaf dengan tangan kirinya, sambil tidak henti-hentinya menyerukan pesan perdamaian. Untuk kedua kalinya tangannya ditebas. Dia mengambil Al-Quran dengan gigi-giginya, sementara tubuhnya sudah bersimbah darah. Sorot matanya masih menyerukan perdamaian dan mengajak mereka untuk memelihara darah kaum Muslim. Akhirnya orang pun menebas lehernya.

Pejuang perdamaian ini rubuh. Orang-orang membawanya ke hadapan Ali ibn Abi Thalib. Ali mengucapkan do'a untuknya, sementara air matanya deras membasahi wajahnya. "Sampai juga saatnya kita harus memerangi mereka. Tetapi aku nasihatkan kepada kalian, janganlah kalian memulai menyerang mereka. Jika kalian berhasil mengalahkan mereka, janganlah mengganggu orang yang terluka, dan janganlah mengejar orang yang lari. Jangan membuka aurat mereka. Jangan merusak tubuh orang yang terbunuh. Bila kalian mencapai perkampungan mereka janganlah membuka yang tertutup, jangan memasuki rumah tanpa izin, janganlah mengambil harta mereka sedikit pun. Jangan menyakiti perempuan walaupun mereka mencemoohkan kamu. Jangan mengecam pemimpin mereka dan orang-orang saleh di antara mereka."

Sejarah kemudian mencatat kemenangan di pihak Ali. Seperti yang dipesankannya, pasukan Ali berusaha menyembuhkan luka ukhuwwah yang sudah retak. Ali sendiri memberikan ampunan massal. Sejarah juga mencatat bahwa tidak lama setelah kemenangan ini, pembangkang-pembangkang yang lain muncul. Mu'awiyah mengerahkan pasukan untuk memerangi Ali. Ketika mereka terdesak dan kekalahan sudah di ambang pintu, mereka mengangkat Al-Qur'an, memohon perdamaian. Ali, yang sangat mencintai ukhuwwah, menghentikan peperangan. Seperti kita ketahui bersama, Ali dikhianati. Karena kecewa, segolongan dari pengikut Ali memisahkan diri. Golongan ini, kelak terkenal sebagai Khawarij, berubah menjadi penentang Ali. Seperti biasa, Ali mengirimkan utusan untuk mengajak mereka berdamai. Seperti biasa pula, upaya tersebut gagal.

Dari: Islam Aktual. Jalaluddin Rakhmat. Mizan, Jakarta 1991
»»  READMORE...

Sunday, February 6, 2011

Azab Kaum Nasrani


AZAB KAUM NASRANI

Abdullah berkata, Saya mendengar Abu Burdah menceritakan kepada Umar bin Abdul Aziz dari ayahnya Abu Musa al-Asy'ari, dia berkata, Rasulullah saw. Bersabda, "Jika hari kiamat tiba, maka para nabi dan umatnya diseru. Maka diserulah Isa. Allah telah menuturkan nikmat yang telah dianugerahkan kepadanya dan Isa pun mengakuinya. Allah berfirman, "Hai Isa putra Maryam, ingatlah akan nikmat-Ku yang diberikan kepadamu dan kepada ibumu.' Kemudian Allah berfirman, `Adakah kamu mengatakan kepada manusia, `Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah." Isa menolak bahwa dirinya mengatakan demikian. Lalu ditampilkan kaum Nasrani dan ditanya. Maka mereka menjawab, `Benar, Isa menyuruh kami berbuat demikan.' Nabi bersabda, `Maka rambut Isa menjadi panjang. Lalu setiap malaikat memegang sehelai rambut kepala dan bulu tubuh Isa. Kemudian Isa menjadikan kaum Nasrani duduk memeluk lutut dihadapan Allah selama seribu tahun sebelum ditegakkan hujjah yang mengalahkan mereka, diangkat ke tiang salib dan digiring ke neraka,'

"Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman: "Hai Isa putra Maryam, adakah kamu mengatakan kepada manusia: "Jadikanlah aku dan ibuku dua orang tuhan selain Allah?" Isa menjawab: "Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku (mengatakannya). Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri Engkau.  Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui perkara yang gaib-gaib".Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan) nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan (angkat) aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba Engkau, dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.  (QS. Al-Maa-idah:116-118)

»»  READMORE...

Andaikata

Andaikata Oh Andaikata

Seperti yang telah biasa dilakukannya ketika salah satu sahabatnya meninggal dunia Rasulullah mengantar jenazahnya sampai ke kuburan. Dan pada saat pulangnya disempatkannya singgah untuk menghibur dan menenangkan keluarga almarhum supaya tetap bersabar dan tawakal menerima musibah itu. Kemudian Rasulallah berkata,"tidakkah almarhum mengucapkan wasiat sebelum wafatnya?" Istrinya menjawab, saya mendengar dia mengatakan sesuatu diantara dengkur nafasnya yang tersengal-sengal menjelang ajal"

"Apa yang di katakannya?"
"Saya tidak tahu, ya Rasulallah, apakah ucapannya itu sekedar rintihan sebelum mati, ataukah pekikan pedih karena dasyatnya sakaratul maut. Cuma, ucapannya memang sulit dipahami lantaran merupakan kalimat yang terpotong-potong."
"Bagaimana bunyinya?" desak Rasulallah.
Istri yang setia itu menjawab,"suami saya mengatakan "Andaikata lebih panjang lagi....andaikata yang masih baru....andaikata semuanya...." hanya itulah yang tertangkap sehingga kami bingung dibuatnya. Apakah perkataan-perkataan itu igauan dalam keadaan tidak sadar, ataukah pesan-pesan yang tidak selesai?"

Rasulallah tersenyum."sungguh yang diucapkan suamimu itu tidak keliru,"ujarnya.
Kisahnya begini. pada suatu hari ia sedang bergegas akan ke masjid untuk melaksanakan shalat jum'at. Ditengah jalan ia berjumpa dengan orang buta yang bertujuan sama. Si buta itu tersaruk-saruk karena tidak ada yang menuntun. Maka suamimu yang membimbingnya hingga tiba di masjid. Tatkala hendak menghembuskan nafas penghabisan, ia menyaksikan pahala amal shalehnya itu, lalu iapun berkata "andaikan lebih panjang lagi". Maksudnya, andaikata jalan ke masjid itu lebih panjang lagi, pasti pahalanya lebih besar pula.

Ucapan lainnya ya Rasulullah?" tanya sang istri mulai tertarik.
Nabi menjawab, "adapun ucapannya yang kedua dikatakannya tatkala, ia melihat hasil perbuatannya yang lain. Sebab pada hari berikutnya, waktu ia pergi ke masjid pagi-pagi, sedangkan cuaca dingin sekali, di tepi jalan ia melihat seorang lelaki tua yang tengah duduk menggigil, hampir mati kedinginan. Kebetulan suamimu membawa sebuah mantel baru, selain yang dipakainya. Maka ia mencopot mantelnya yang lama, diberikannya kepada lelaki tersebut. Dan mantelnya yang baru lalu dikenakannya. Menjelang saat-saat terakhirnya, suamimu melihat balasan amal kebajikannya itu sehingga ia pun menyesal dan berkata, "Coba andaikan yang masih yang kuberikan kepadanya dan bukan mantelku yang lama, pasti pahalaku jauh lebih besar lagi". Itulah yang dikatakan suamimu selengkapnya.

Kemudian, ucapannya yang ketiga, apa maksudnya, ya Rasulullah?" tanya sang istri makin ingin tahu. Dengan sabar Nabi menjelaskan, "ingatkah kamu pada suatu ketika suamimu datang dalam keadaan sangat lapar dan meminta disediakan makanan? Engkau menghidangkan sepotong roti yang telah dicampur dengan daging. Namun, tatkala hendak dimakannya, tiba-tiba seorang musyafir mengetuk pintu dan meminta makanan. Suamimu lantas membagi rotinya menjadi dua potong, yang sebelah diberikan kepada musyafir itu. Dengan demikian, pada waktu suamimu akan nazak, ia menyaksikan betapa besarnya pahala dari amalannya itu. Karenanya, ia pun menyesal dan berkata 'kalau aku tahu begini hasilnya, musyafir itu tidak hanya kuberi separoh. Sebab andaikata semuanya kuberikan kepadanya, sudah pasti ganjaranku akan berlipat ganda. Memang begitulah keadilan Tuhan. Pada hakekatnya, apabila kita berbuat baik, sebetulnya kita juga yang beruntung, bukan orang lain. Lantaran segala tindak-tanduk kita tidak lepas dari penilaian Allah. Sama halnya jika kita berbuat buruk. Akibatnya juga akan menimpa kita sendiri. Karena itu Allah mengingatkan: "kalau kamu berbuat baik, sebetulnya kamu berbuat baik untuk dirimu. Dan jika kamu berbuat buruk, berarti kamu telah berbuat buruk atas dirimu pula."(QS. Al Isra':7)
»»  READMORE...

Kesadaran


Kisah Sesendok Madu

Ada sebuah kisah simbolik yang cukup menarik untuk kita simak. Kisah ini adalah kisah tentang seorang raja dan sesendok madu. Alkisah, pada suatu ketika seorang raja ingin menguji kesadaran warganya. Raja memerintahkan agar setiap orang, pada suatu malam yang telah ditetapkan, membawa sesendok madu untuk dituangkan dalam sebuah bejana yang telah disediakan di puncak bukit ditengah kota. Seluruh warga kota pun memahami benar perintah tersebut dan menyatakan kesediaan mereka untuk melaksanakannya.

Tetapi dalam pikiran seorang warga kota (katakanlah si A) terlintas suatu cara untuk mengelak, "Aku akan membawa sesendok penuh, tetapi bukan madu. Aku akan membawa air. Kegelapan malam akan melindungi dari pandangan mata seseorang. Sesendok air pun tidak akan mempengaruhi bejana yang kelak akan diisi madu oleh seluruh warga kota."

Tibalah waktu yang telah ditetapkan. Apa kemudian terjadi? Seluruh bejana ternyata penuh dengan air. Rupanya semua warga kota berpikiran sama dengan si A. Mereka mengharapkan warga kota yang lain membawa madu sambil membebaskan diri dari tanggung jawab.

Kisah simbolik ini dapat terjadi bahkan mungkin telah terjadi, dalam berbagai masyarakat manusia. Dari sini wajar jika agama, khususnya Islam, memberikan petunjuk-petunjuk agar kejadian seperti di atas tidak terjadi: "Katakanlah (hai Muhammad), inilah jalanku. Aku mengajak ke jalan Allah disertai dengan pembuktian yang nyata. Aku bersama orang-orang yang mengikutiku (QS 12:108). Dalam redaksi ayat di atas tercermin bahwa seseorang harus memulai dari dirinya sendiri disertai dengan pembuktian yang nyata, baru kemudian dia melibatkan pengikut-pengikutnya.

"Berperang atau berjuang di jalan Allah tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri, dan bangkitkanlah semangat orang-orang mukmin (pengikut-pengikutmu) (QS 4:84). Perhatikan kata-kata "tidaklah dibebankan kecuali pada dirimu sendiri." Nabi Muhammad saw. pernah bersabda: "Mulailah dari dirimu sendiri, kemudian susulkanlah keluargamu." Setiap orang menurut beliau adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas yang dipimpinnya, ini berarti bahwa setiap orang harus tampil terlebih dahulu. Sikap mental demikianlah yang dapat menjadikan bejana sang raja penuh dengan madu bukan air, apalagi racun.

Pelita Hati - M. Quraish Shihab
»»  READMORE...
Menjadi Secantik Aisyah r.ha © 2008 Por *Templates para Você*